Rabu, 08 Agustus 2012

Resonansi Jiwa [7] Cinta dan Waktu


Resonansi Jiwa [7]
Cinta dan Waktu
Alkisah di suatu pulau kecil tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada cinta, kesedihan, kekayaan, kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau tersebut. Semua penghuni mulai cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik dan membasahi kaki cinta. Tidak lama kemudian cinta melihat kekayaan sedang mengayuh perahu.
“Kekayaan, Kekayaan, tolong aku!” teriak cinta.
“Aduh maaf cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu. Nanti perahuku tenggelam. Lagipula tidak ada tempat lagi bagimu di perahu ini,” kata kekayaan.
Lalu kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali. Namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya.
“Kegembiraan, tolong aku!” teriak cinta.
Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tidak mendengar teriakan cinta. Air semakin tinggi membasahi cinta sampai ke pinggang dan cinta semakin panik. Tidak lama kemudian lewatlah kecantikan.
“Kecantikan, bawalah aku bersamamu,” pinta cinta.
“Wah cinta, lihatlah kamu basah dan kotor. Aku tidak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini,” sahut kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah kesedihan.
“Wahai kesedihan hiks, bawalah aku bersamamu,’
Cinta meminta untuk ikut serta.
“Maaf cinta, aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja,” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Di saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara.
“Cinta, mari cepat naik ke perahuku.
Cinta menoleh ke arah suara tersebut dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat cinta naik ke perahu itu tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat orang tua itu menurunkan cinta. Dan segera pergi. Pada sat itu barulah cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya.Cinta segera mena an kepada seorang penduduk di pulau tersebut siapa sebenarnya orang tua tadi.
“Pak, siapakah orang tua yang tadi?” tanya cinta.
“Oo orang tua yang tadi, dia adalah sang waktu,” jawab penduduk
“Tapi mengapa ia menyelamatkanku. Aku tidak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku.”
Cinta heran dan penduduk itu menjawab
Hanya waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu.

Tidak ada komentar:

Lomba Menulis dari FPKS DPR RI, Hadiah 80 Jt

Lomba Menulis dari FPKS DPR RI, Hadiah 80 Jt Informasi lomba yang akan dibagikan dalam website lomba selanjutnya, adalah Lomb...